Dampak
Indigo Terhadap Perkembangan Anak Remaja
Latar
Belakang
Indigo merupakan hal yang baru di Indonesia. Banyak orang yang
menganggap bahwa anak yang memiliki gift
adalah anak yang indigo. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, indigo merupakan
warna biru tua yang diperoleh dari tumbuhan atau tarum (Kamus Besar Bahasa
Indonesia, 2008). Sejalan dengan itu, indigo adalah fenomena baru kehidupan
manusia yang memiliki ketajaman indra keenam (Supriyanto, 2012). Indigo sendiri
dipopulerkan pada tahun 1998 melalui buku yang berjudul “The Indigo Children”
yang ditulis oleh pasangan Lee Carroll dan Jan Tober.
Pengertian
Gejala. Ada beberapa
gejala anak indigo, diantaranya adalah:
Sulit
untuk Bersosialisasi. “Sulitnya
bersosialisasi, diakibatkan kurangnya dukungan moral dari masyarakat dan orang
tua, sehingga merasa diasingkan. Peran dan dukungan dari orang tua dan
masyarakat sangat penting terhadap anak-anak ini.” (Erik
H. & Erikson, 1933)
Dikucilkan. “Anak Indigo
dikucilkan dalam kesehariannya, karena selalu menjadi orang tua bagi
orang-orang yang ada di sekitarnya, terutama orang-orang terdekat.
Nasehat-nasehat yang selalu dikeluarkan, membuat orang lain menjadi kesal
dan menjauh.” (Erik H. & Erikson,1933)
Dianggap Aneh. “Kebanyakan anak
indigo diasumsikan sebagai anak yang aneh, karena dengan tingkah laku dan pola
pikir yang dinilai tidak wajar sebagai anak-anak.” (Erik H. & Erikson,1933)
Kesulitan
Tidur. “Kesulitan tidur yang dialami oleh anak indigo, karena mereka selalu
mendengar suara-suara yang mengganggu, penglihatan-penglihatan yang aneh,
melihat penderitaan alam dan pemikiran-pemikiran idealis.” (Erik H. &
Erikson,1933)
Ciri.
Lee carroll & Jan tobber dalam
bukunya The Indigo Children mengemukakan 10 ciri umum dari anak Indigo, yaitu
(a) mereka memasuki dengan perasaan keningkatan, (b) mereka memiliki perasaan
“pantas untuk berasa disini”, (c) harga diri bukanlah persoalan besar, (d)
memiliki kesulitan dengan otoritas absolut, (e) mereka benar-benar tidak akan
melakukan hal-hal tertentu, (f) merasa frustasi dengan system yang berorientasi
pada ritual dan tidak memerlukan pemikiran kreatif, (g) sering melihat
cara-cara yang lebih baik dalam melakukan segala sesuatu, (h) tampak seperti
antisocial kecuali jika bersama dengan orang-orang yang sejenis, (i) tidak akan
bereaksi terhadap disiplin “rasa bersalah”, (j) tidak malu memberitahu anda
tentang apa yang dibutuhkan.
Dampak
Apsari
(2009, h. 111) karakteristik indigo yang dimiliki remaja merasa berbeda dan
tidak cocok dengan lingkungannya. Remaja indigo merasa lebih memiliki banyak
pengetahuan dibanding orang lain. Salah satu dampaknya membuat dirinya merasa
tidak mau diatur.
Apsari (2009, h. 111-112) remaja indigo sering merasa tidak cocok dengan
lingkungannya, karena pemikiran yang berbeda. Remaja akhir iindigo merasa
perbedaan pada diri mereka saat dan sebelum dinyatakan indigo, dan mereka
merasa bahwa indigo terkadang dipandang terlalu tinggi dan dianggap sebagai
pembawa perubahan.
Kesimpulan
Orang tua berpengaruh kuat
terhadap perkembangan remaja indigo agar lebih memperhatikan dan mengamati
bagaimana perkembangannya. Masyarakat umum yang belum mengetahui indigo
sebaiknya tidak tidak memberikan labeling
yang negatif terhadap anak
indigo, karena labeling yang negative
akan berpengaruh terhadap perkembangan anak indigo.
Daftar Pustaka
Apsari,
I (2009) Gambaran konsep diri. (Skripsi
tidak diterbitkan) Universitas Indonesia, Jakarta.
Carroll, L. & Tobber, J. (2006)
The Indigo children, BIP : Jakarta. Diunduh dari http://ruangpsikologi.com/keluarga/indigo/#ixzz3IdzhndQl
Gejala anak indigo (n. d.). diunduh
dari http://www.psychologymania.com/2013/07/gejala-anak-indigo.html
Kamus
Besar Bahasa Indonesia (2008). Diunduh dari http://bahasa.cs.ui.ac.id/kbbi/kbbi.php?keyword=indigo&varbidang=all&vardialek=all&varragam=all&varkelas=all&submit=kamus
Supriyanto,
A. (2012) Pendidikan alternatif bagi anak indigo. Edukasi: Jurnal penelitian & artikel pendidikan 1(8), 233.






0 comments:
Post a Comment